Rabu, 22 September 2010

Lily di Cina (Indahnya Bunga-Bunga)

BUAAAHHHH…croot, air-air muncrat dari mulut si om berakibat membasahi sekuntum bunga matahari lebar tinggi kuning menyala. BUAAAHHHH …crot, sekali lagi terjadi. Aku berhenti dari berjalan. Heran. Jelas banget si om tidak sedang tersedak, ia menuang air kemasan ke mulut dan menyemprotkannya dengan kekuatan penuh sampai-sampai kepalanya berayun dari belakang ke depan seperti sedang meludahi musuh bebuyutan. Adat istiadat salah satu dari 56 suku di Cina kah menyembur bunga matahari? Membawa hoki ? Bukan. Aksi si om kemudian adalah membidikkan kamera SLR nya. Ya ampun, dasar…adatnya fotografer ternyata.

Botany Garden Beijing, Cina. Minggu pagi aku ada disana. Aku bukan botanist atau naturalist, buta nama bunga kecuali mawar melati...semuanya indah, kusiram semua…hahaha. (aku ragu anak sekarang tahu lagu Lihat Kebunku). Tapi aku suka melihat bunga aneka bentuk warna rupa, menyegarkan mata. Pink, ungu, lembayung, merah menyala, merah redup, oranye terang, kuning menyala, kuning kalem…pendek, tinggi, kecil, lebar, besar, kuncup, bergerombol, tunggal…semua tampak indah. Hampir semua bunga yang kulewati kupotret dari berbagai sudut, dengan gayaku nungging, jongkok, jinjit seolah mereka flora langka atau seolah aku pecinta sejati flora-flora se Cina. Entahlah.. cuaca segar sejuk Beijing bulan September sekitar 20 derajat celcius, penataan taman yang prima, pegunungan anggun berjejer melatarbelakangi sekeliling taman, fotografer dimana-mana dan kesadaran aku sedang di Botany Garden ibukota Cina nun jauh di sana membuat hatiku tergugah indah oleh bebungaan tersebut. Aku puas. Apalagi sempat terjepret olehku dua kupu-kupu yang sedang mengembangkan kedua sayapnya di segerombolan bunga. Cantik.

Dua hari lalu aku ada di Cina, tadi jalan pagi keliling kompleks apartemenku di Jakarta. Yang terjadi adalah aku heran dan takjub dan kaget dan melongo. Bukannya aku tidak tahu ada banyak bunga dan tanaman di sana, tapi kog ternyata banyak bunga dan tanaman indah ya? banyak sekali..ada gerombolan tanaman daun hijau tanpa bunga, tinggi di atas kepalaku yang pucuk-pucuknya berwarna kemerahan -hanya pucuk-pucuknya saja…unik sekali. Ada Lily putih yang pernah dipetikkan oleh seorang bocah Korea untukku ketika kami berpapasan (sungguh bukan suatu pemaksaan olehku melainkan ketulusan hati bocah manis itu, percayalah padaku), ada Water Lily, ada Heliconia oranye kuning (terbukti statementku tentang mawar melati di atas adalah bohong belaka- tapi sudahlah ampuni saja), ada gerombolan daun berwarna mayoritas putih dan sedikit hijau. Ternyata satu tahun enam bulan tinggal di sini dan sering jalan pagi tidak membuatku menyadari apalagi mengagumi keindahan bebungaan di tempat yang paling dekat dengan ku.

Alamak ! Bukankah kita seringkali demikian ? Mengagumi sesuatu yang jauh dan tidak menghargai yang dekat. Melek terhadap keindahan di tempat yang jauh dan buta terhadap keindahan di tempat yang dekat. Melihat istri, suami, orang tua, anak tetangga ‘lebih hijau’ dibanding milik sendiri. Tidak jelas antara mengagumi atau meng-iri-i pekerjaan, bakat, kemampuan dan rejeki orang lain yang berbuahkan perasaan tidak senang terhadap diri sendiri. Apa lagi ? Sebutkanlah sendiri dalam hati. Banyak hal indah yang ternyata dekat lho, mari cermati, kagumi dan hargai.
Satu hal lagi, jangan heran kalau bertemu dengan seseorang yang berulangkali menyembur bunga di sebuah taman apartemen di Jakarta…bisa jadi itu saya, haha.