Sabtu, 14 Agustus 2010
Lily & Orbituari
Kejadian ke 4, saat aku menjenguk pamanku yang hendak operasi jantung. Bertemu dengan pria eksekutif muda kaya yang adalah famili pamanku, dia berpenampilan rapi necis riang gembira bawel dan mengesankan karena berpromosi habis-habisan tentang dokter jantung di luar negri yang telah sukses mengoperasinya. (Mungkin cukup tepat bila si dokter ku beri gelar “Lord of The Rings” karena sudah sukses memasang ring-ring di jantung sekian banyak manusia.). Pria eksekutif muda memberikan kartu nama si dokter pada pamanku seolah memaksa pamanku keluar dari RS sekarang juga. Satu minggu sesudahnya aku membuka koran -yaitu setelah pamanku tidak jadi dioperasi karena ternyata tidak perlu- dan...pria eksekutif muda kaya yang umurnya separonya pamanku ada di dalam orbituari...serangan jantung ternyata. Life is short. (oh ya, gelar Lord of The Rings harus dicopot sepertinya)
Kejadian ke 3, aku pernah menjadi relawan di RSJ – bukan Rumah Sakit Jakarta tapi Rumah Sakit Jiwa, di Semarang. Bertemu dan ngobrol dengan gadis muda berkulit bersih dan secara fisik normal. Sepertinya episode depresinya sudah lewat. Beberapa hari kemudian, aku membuka koran dan...seperti yang Anda duga, dia ada di dalam orbituari.. Dalam teori Psikologi, orang yang sedang dalam lembah terdalam depresi tidak bisa bunuh diri karena ia tidak punya energi mental/ semangat/ inisiatif yang cukup untuk membunuh dirinya sendiri. Namun justru setelah episode depresinya lewat dan ia mulai memiliki energi/ inisiatif untuk melakukan sesuatu, maka itulah ‘saat yang paling tepat” untuk melakukan aksi bunuh diri. Life is short.
Kejadian ke 2, tiga bulan setelah melayat teman masa kecil yang meninggal, aku membuka koran dan melihat...ibu dari temanku tadi ada di orbituari...kesedihan yang mendalam ditinggal oleh putrinya menjadi salah satu faktor pemicu. Kembali sebentar pada adegan melayat teman masa kecilku tadi, ketika duduk di ruang duka aku tengak-tengok melihat ruang sebelahnya seperti hendak memilih menu di food court saja. Ternyata kebiasaanku itu berbuntut petaka... belum habis shock karena teman masa kecilku meninggal mendadak dalam usia muda 20 tahun-an, aku kena shock lagi karena ruang sebelah yang kulirik memasang foto teman SMA ku ! Aku lihat fotonya, baca namanya, lihat fotonya, baca namanya...tidak salah lagi. Setelah berpamitan dengan ibu temanku yang tiga bulan berikutnya bakal muncul di orbituari, aku pindah ke ruang sebelah.... Life is short
Kejadian pertama, suatu hari saat SMA aku membuka koran dari halaman pertama sampai terakhir dan seperti orang resah aku kembali membolak-balik halamannya sampai mataku tertuju pada orbituari....teman SMP ada di sana, dulu kami dekat. Sejak berbeda SMA, kami tidak tahu kabar masing-masing. Ternyata sudah beberapa kali dia melakukan percobaan bunuh diri. Kemunculan di orbituari merupakan bukti keberhasilan percobaannya. Life is short.
Bayi-bayi wafat, anak-anak SD SMP SMA meninggal, mahasiswa berhenti bernafas, jantung orang muda berhenti berdetak, ibu muda meninggal, kakek menghembuskan nafas terakhir.... kalau aku membuat daftar nama orang-orang dari berbagai usia yang kukenal yang sudah mendahuluiku ‘pergi jauh’, cukup panjang.... merenungkan mereka semua, aku merasa seperti seorang kontestan lomba yang ‘sudah lolos ke babak selanjutnya’ karena bisa melewati masa kecil, remaja, dewasa muda dalam kondisi hidup & bernafas seperti saat ini sementara ada orang yang ‘tidak lolos ke babak selanjutnya’ entah di babak awal, perempat final, atau semi final.
Life is short.
Tapi ada yang panjang dan tidak berakhir, yaitu hidup kekal.
Walaupun tidak pernah tahu kapan pergi ke alam baka, namun sebaiknya perlu siap jauh hari dengan ‘koper, pasport dan visa’.
Rick Warren pengarang buku laris “Purpose Driven Life” bilang hidup di dunia adalah ‘gladi bersih’ dari hidup kekal.
Jadi, mari lakukan gladi bersih tiap hari... berlatih membersihkan hati, berlatih mengampuni, berlatih mengasihi agar Sang Khalik menilai kita cocok dengan atmosfir Surga Mulia sehingga kita diterima di Sana..
Senin, 09 Agustus 2010
Oily Wok, Oily Mind
Malam hari aku selalu mencuci wajan berminyak secara sistematis. Wajan yang berat karena beneran terbuat dari waja (alias baja) bercorak buruk rupa tersebut, pertama-tama ku kucuri dengan sabun cair yang kental beraroma jeruk nipis..crot crot.. Dengan sikat berpermukaan lebar, aku sikat srek srek srek dengan gerakan melingkar sentrifugal maupun sentripetal. (aku selalu terbalik dengan makna keduanya karena ketika SMA jurusan IPA, aku lemah di Fisika- maka kusebut keduanya sekaligus biar aman). Nah, setelah prosedur itu aku ulang kedua kalinya, aku akan melakukan checking dengan gerakan jari-jemariku yang anggun menyusuri-menekan cekungan wajan... Nah, muncullah problem pada bagian ini disebabkan oleh jari-jemariku yang sebenarnya valid tapi tidak reliabel karena terkontaminasi oleh minyak dari wajan.
Bayangan adegan ini : Lily melakukan checking..oh, wajan terasa masih berminyak di jemariku.. ok, di sabun sikat lagi -siram-checking..oh, wajan masih terasa berminyak di jemariku...ok, di sabun sikat lagi –siram-checking.. oh, wajan masih terasa berminyak di jemariku...ok, di sabun sikat lagi –siram-checking.. Adegan diakhiri dengan pose Lily terkulai di lantai dapur memegang sikat dengan backsound ayam berkokok menyambut fajar dini hari...Lily Lebai? tunggu dulu...Anda kemungkinan besar melakukan juga dalam rupa yang berbeda.
Kegiatan mencuci wajan yang kuceritakan diatas adalah kisah nyataku, minus ayam berkokok tentunya (bagi yang menjawab “karena di apartemen tidak ada ayam” tolong berhenti membaca sekarang juga). Analogi ini mirip dengan kisah berikut : Seorang kakek berkumis tebal waktu tidur dikerjain oleh cucunya yang mengoleskan minyak bau di kumisnya. Nah, waktu bangun si kakek mendakwa bahwa kamar tidurnya bau...kemudian dia melangkah ke kamar mandi dan mendakwa bahwa kamar mandinya bau...kemudian dia pergi ke ruang makan dan mendakwa bahwa ruang makannya bau... ke teras tetap aja bau... padahal yang bau adalah kumisnya sendiri.
Jadi, yang sebaiknya dilakukan ? Mencuci tanganku dengan sabun sampai minyak sirna dari jemari, baru melakukan checking..maka ketahuanlah sejatinya wajanku masih berminyak atau sudah bersih. Sama halnya dg pikiran yang terkontaminasi dengan ‘minyak prasangka’ ‘minyak benci’ ‘minyak curiga’ selalu menimbulkan checking-checking yang tidak reliabel terhadap kondisi orang lain. “Pasti dia akan salah lagi, memang dia sulit diajar” (bos pada anak buah; bisa jadi caranya ngajarin yang salah). “Pasti dia tidak puas lagi sama saya karena saya sekarang gembrot” (istri pada suami; bisa jadi karena galaknya-bukan gembrotnya). “Pasti dia sengaja bikin aku marah” (ibu pada anak; bisa jadi karena anak ingin mendapatkan perhatian dan waktu dari sang ibu). Hasil checking bisa jadi memang sesuai dugaan kita, tapi pastikan itu tidak dihasilkan oleh 'pikiran yang berminyak'
Mari kita ‘cuci pikiran dari minyak-minyak jelantah’. Psikologi Kognitif mengajarkan bahwa bersih / kotornya ‘saringan otak’ kita yang memberi makna terhadap suatu kondisi.
Sekian.
Oh ya, bagaimana nasib si kakek ? Hmm, akhirnya dia sadar dan mencukur kumisnya (plus menghajar cucunya).
Lily & Termos Pecah
“SEUMUR HIDUP baru kali ini aku mecahin barang di toko !” itu kalimat yang kuhembuskan pada teman setelah aku melakukan atraksi sirkus yang tidak sukses di sebuah toko barang pecah belah di MKG. Tiba-tiba aku mikir “seumur hidup?”
Kisah diawali ketika aku mencari kado, benda yang indah-indah di toko membuat jemariku -yang menurut cowok kesayanganku (yang sekarang entah dimana)- lucu karena mungil alias 4P : pendek-pendek padat berisi (jangan bayangkan kacang telor, saya marah) memegang termos. Mungkin karena faktor 4P tadi, termos plastik bulat yang kupegang mendadak luput dari genggaman dan mental terhempas ke lantai keramik dengan bunyi dahsyat menggema yang bisa jadi sampai terdengar di Monas. Seluruh pramuniaga sontak memandangku ka-gum...eh maksudku : ka-get! Tanpa melihat, dari suaranya aku tahu kalau kaca cermin di dalam termos plastik pecah berkeping-keping seperti kerupuk diremas-remas. Namun luarnya utuh sehingga setelah berunding dengan kasir, kemungkinan termasuk akal adalah menjadikannya vas bunga plastik – tidak bisa bunga hidup karena pantatnya bocor.
Sudah merupakan perjanjian tidak tertulis bahwa “pecah berarti beli” sehingga aku merelakan seratus tiga puluh sembilan ribu lima ratus rupiah ku melayang sia-sia. Sebelum kurelakan rupiahku, sempat aku bernegosiasi dengan kasir berlandaskan ‘pasal-pasal hukum Lily’ yang menurutku logis : “Boleh tidak saya bayar harga pokoknya saja ? khan saya tidak merugikan Anda....” tentu saja kasir menolak pasal yang kuajukan. Setelah membatalkan niat memanggil pengacara karena kupikir sidang akan menghabiskan waktu saja, aku kembali melihat barang di toko yang sama untuk menemukan kado. Namun kali ini aku lipat tanganku rapat-rapat dan menyuruh pramuniaga yang mengambil barang dari rak untuk kulihat.
Keluar dari toko dengan menjinjing dua item, yang satu manis dan yang satu pahit, (Grrrrr) aku bertemu dengan teman. Nah, kata2 “seumur hidup” tadi membuatku mikir : setelah tigapuluh sekian tahun umurku baru sekali ini ya? Oh, kecil sekali kalau dipersentase.. berarti dalam sekian ribu hari hidup ku, terjadi sebuah tragedi dengan persentase 0.00007 % yang menimbulkan gelombang emosi jengkel nyaris setinggi tsunami. Berarti ada 99.99993% hari dimana aku ‘selamat’, ya nggak ? Wah, bersyukur deh kalau gitu.. ternyata begitu banyak hari dimana aku tidak rugi dong...begitu banyak hari dimana aku tidak sial dong...begitu banyak hari dimana aku terlindungi dong...begitu banyak hari dimana aku tidak kaget dong...begitu banyak hari dimana aku tidak sia-sia membayar dong...
Dalam skala ‘kesialan’ yang jauh lebih besar dari tragedi termos plastik, hati kita meratap menangis memberontak dan bila diterjemahkan berbunyi : “Why me God??” Padahal kita lupa bersyukur untuk sekian puluh, ratus, ribu ‘keuntungan’ yang kita alami : lulus sekolah (kenapa tidak menangis haru “Why me God? Sambil memikirkan mereka yang mental retardasi) ; naik gaji (kenapa tidak meratap “Why me God?” sambil memikirkan gaji penyapu jalan); bayi lahir sempurna (kenapa tidak menangis girang “Why me God?” sambil memikirkan bayi hidrochepalus atau mereka yang tidak bisa memiliki anak); makan dengan kenyang dan layak (kenapa tidak meratap “Why me God?” sambil membayangkan pemulung makan beraromakan bau sampah).
Saat ini, aku duduk memandangi termos plastik bocor biru muda bergambar Mickey & Minnie Mouse sedang tersenyum bergandeng tangan, memikirkan bunga warna apa yang cocok untuk dimasukkan ke dalamnya...