Senin, 09 Agustus 2010

Lily & Termos Pecah

“SEUMUR HIDUP baru kali ini aku mecahin barang di toko !” itu kalimat yang kuhembuskan pada teman setelah aku melakukan atraksi sirkus yang tidak sukses di sebuah toko barang pecah belah di MKG. Tiba-tiba aku mikir “seumur hidup?”


Kisah diawali ketika aku mencari kado, benda yang indah-indah di toko membuat jemariku -yang menurut cowok kesayanganku (yang sekarang entah dimana)- lucu karena mungil alias 4P : pendek-pendek padat berisi (jangan bayangkan kacang telor, saya marah) memegang termos. Mungkin karena faktor 4P tadi, termos plastik bulat yang kupegang mendadak luput dari genggaman dan mental terhempas ke lantai keramik dengan bunyi dahsyat menggema yang bisa jadi sampai terdengar di Monas. Seluruh pramuniaga sontak memandangku ka-gum...eh maksudku : ka-get! Tanpa melihat, dari suaranya aku tahu kalau kaca cermin di dalam termos plastik pecah berkeping-keping seperti kerupuk diremas-remas. Namun luarnya utuh sehingga setelah berunding dengan kasir, kemungkinan termasuk akal adalah menjadikannya vas bunga plastik – tidak bisa bunga hidup karena pantatnya bocor.


Sudah merupakan perjanjian tidak tertulis bahwa “pecah berarti beli” sehingga aku merelakan seratus tiga puluh sembilan ribu lima ratus rupiah ku melayang sia-sia. Sebelum kurelakan rupiahku, sempat aku bernegosiasi dengan kasir berlandaskan ‘pasal-pasal hukum Lily’ yang menurutku logis : “Boleh tidak saya bayar harga pokoknya saja ? khan saya tidak merugikan Anda....” tentu saja kasir menolak pasal yang kuajukan. Setelah membatalkan niat memanggil pengacara karena kupikir sidang akan menghabiskan waktu saja, aku kembali melihat barang di toko yang sama untuk menemukan kado. Namun kali ini aku lipat tanganku rapat-rapat dan menyuruh pramuniaga yang mengambil barang dari rak untuk kulihat.


Keluar dari toko dengan menjinjing dua item, yang satu manis dan yang satu pahit, (Grrrrr) aku bertemu dengan teman. Nah, kata2 “seumur hidup” tadi membuatku mikir : setelah tigapuluh sekian tahun umurku baru sekali ini ya? Oh, kecil sekali kalau dipersentase.. berarti dalam sekian ribu hari hidup ku, terjadi sebuah tragedi dengan persentase 0.00007 % yang menimbulkan gelombang emosi jengkel nyaris setinggi tsunami. Berarti ada 99.99993% hari dimana aku ‘selamat’, ya nggak ? Wah, bersyukur deh kalau gitu.. ternyata begitu banyak hari dimana aku tidak rugi dong...begitu banyak hari dimana aku tidak sial dong...begitu banyak hari dimana aku terlindungi dong...begitu banyak hari dimana aku tidak kaget dong...begitu banyak hari dimana aku tidak sia-sia membayar dong...


Dalam skala ‘kesialan’ yang jauh lebih besar dari tragedi termos plastik, hati kita meratap menangis memberontak dan bila diterjemahkan berbunyi : “Why me God??” Padahal kita lupa bersyukur untuk sekian puluh, ratus, ribu ‘keuntungan’ yang kita alami : lulus sekolah (kenapa tidak menangis haru “Why me God? Sambil memikirkan mereka yang mental retardasi) ; naik gaji (kenapa tidak meratap “Why me God?” sambil memikirkan gaji penyapu jalan); bayi lahir sempurna (kenapa tidak menangis girang “Why me God?” sambil memikirkan bayi hidrochepalus atau mereka yang tidak bisa memiliki anak); makan dengan kenyang dan layak (kenapa tidak meratap “Why me God?” sambil membayangkan pemulung makan beraromakan bau sampah).


Saat ini, aku duduk memandangi termos plastik bocor biru muda bergambar Mickey & Minnie Mouse sedang tersenyum bergandeng tangan, memikirkan bunga warna apa yang cocok untuk dimasukkan ke dalamnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar