Senin, 09 Agustus 2010

Oily Wok, Oily Mind

Malam hari aku selalu mencuci wajan berminyak secara sistematis. Wajan yang berat karena beneran terbuat dari waja (alias baja) bercorak buruk rupa tersebut, pertama-tama ku kucuri dengan sabun cair yang kental beraroma jeruk nipis..crot crot.. Dengan sikat berpermukaan lebar, aku sikat srek srek srek dengan gerakan melingkar sentrifugal maupun sentripetal. (aku selalu terbalik dengan makna keduanya karena ketika SMA jurusan IPA, aku lemah di Fisika- maka kusebut keduanya sekaligus biar aman). Nah, setelah prosedur itu aku ulang kedua kalinya, aku akan melakukan checking dengan gerakan jari-jemariku yang anggun menyusuri-menekan cekungan wajan... Nah, muncullah problem pada bagian ini disebabkan oleh jari-jemariku yang sebenarnya valid tapi tidak reliabel karena terkontaminasi oleh minyak dari wajan.


Bayangan adegan ini : Lily melakukan checking..oh, wajan terasa masih berminyak di jemariku.. ok, di sabun sikat lagi -siram-checking..oh, wajan masih terasa berminyak di jemariku...ok, di sabun sikat lagi –siram-checking.. oh, wajan masih terasa berminyak di jemariku...ok, di sabun sikat lagi –siram-checking.. Adegan diakhiri dengan pose Lily terkulai di lantai dapur memegang sikat dengan backsound ayam berkokok menyambut fajar dini hari...Lily Lebai? tunggu dulu...Anda kemungkinan besar melakukan juga dalam rupa yang berbeda.


Kegiatan mencuci wajan yang kuceritakan diatas adalah kisah nyataku, minus ayam berkokok tentunya (bagi yang menjawab “karena di apartemen tidak ada ayam” tolong berhenti membaca sekarang juga). Analogi ini mirip dengan kisah berikut : Seorang kakek berkumis tebal waktu tidur dikerjain oleh cucunya yang mengoleskan minyak bau di kumisnya. Nah, waktu bangun si kakek mendakwa bahwa kamar tidurnya bau...kemudian dia melangkah ke kamar mandi dan mendakwa bahwa kamar mandinya bau...kemudian dia pergi ke ruang makan dan mendakwa bahwa ruang makannya bau... ke teras tetap aja bau... padahal yang bau adalah kumisnya sendiri.


Jadi, yang sebaiknya dilakukan ? Mencuci tanganku dengan sabun sampai minyak sirna dari jemari, baru melakukan checking..maka ketahuanlah sejatinya wajanku masih berminyak atau sudah bersih. Sama halnya dg pikiran yang terkontaminasi dengan ‘minyak prasangka’ ‘minyak benci’ ‘minyak curiga’ selalu menimbulkan checking-checking yang tidak reliabel terhadap kondisi orang lain. “Pasti dia akan salah lagi, memang dia sulit diajar” (bos pada anak buah; bisa jadi caranya ngajarin yang salah). “Pasti dia tidak puas lagi sama saya karena saya sekarang gembrot” (istri pada suami; bisa jadi karena galaknya-bukan gembrotnya). “Pasti dia sengaja bikin aku marah” (ibu pada anak; bisa jadi karena anak ingin mendapatkan perhatian dan waktu dari sang ibu). Hasil checking bisa jadi memang sesuai dugaan kita, tapi pastikan itu tidak dihasilkan oleh 'pikiran yang berminyak'

Mari kita ‘cuci pikiran dari minyak-minyak jelantah’. Psikologi Kognitif mengajarkan bahwa bersih / kotornya ‘saringan otak’ kita yang memberi makna terhadap suatu kondisi.


Sekian.

Oh ya, bagaimana nasib si kakek ? Hmm, akhirnya dia sadar dan mencukur kumisnya (plus menghajar cucunya).

1 komentar:

  1. bahan renungan yg bagus ci :) btw link nya mana ci... ini maksud aku, kalo ada postingan baru spt ini dipromo aja di FB juga. Bisa lewat status misalnya dengan kata2 mengundang, baca yuk bla bla... trs kasi link web nya... yaitu : http://lily-simplylily.blogspot.com/2010/08/oily-wok-oily-mind.html (ini aku copy dari alamat yg tertera di bagian alamat web di atas itu loh... lalu di paste dan orang bs lgs klik). or bs juga dimuat sedikit di notes spt yg aku blg seblmnya hehehe... mgkn bs lebih mempromosikan *btw ini mah cara aku aja yg coba2 sendiri, blm coba pake cara2 yg canggih spt para blogger pro hehehe

    BalasHapus