World Expo yang diadakan 4 tahun sekali (atau 5 ya?) dengan durasi pelaksanaan selama 6 bulan, tahun 2010 ini dilangsungkan di Shanghai. Terimbas oleh antusiasme kenalan-kenalanku yang sudah menghadirinya, aku ikutan ke sana. Orang selalu bertanya “Apa yg di pamerkan sih ?” Jawabannya sederhana “satu paviliun untuk satu negara memamerkan eksistensinya.” / “kayak apa?”/ “ya teknologinya, ya budayanya, ya historinya, ya lain-lainnya.” Selain itu ada juga area untuk paviliun2 corporate. Ok, karena skalanya dunia, tentu bukan sembarang expo. Semuanya serba “wah” : luas wilayahnya, keindahan arsitektur dan interior paviliunnya, teknik ventilasinya, jumlah pengunjungnya (skitar 50 ribu pengunjung dalam satu hari) dan of course yang tak kalah ‘wah’ adalah ngantrinya.
Untuk ngantri masuk ke satu paviliun Negara favorit seperti China, USA, Jepang, Arab Saudi, bisa memakan waktu 3-4 jam bahkan lebih. Itu hanya NGANTRI untuk masuk satu paviliun lho. Jadi memang makan waktu beberapa hari bagi yang niat betul untuk mengunjungi berbagai paviliun. Orang-orang yang ngantri (bayangkan formasinya seperti mau masuk wahana di Dufan, seperti ular-ularan), membawa payung, pake sunglases, bawa kursi lipat, bawa minum, makan, jongkok …wis lah kayak piknik rame-rame warga dunia campur aduk gitu.
Formasiku saat itu terdiri dari 4 orang : 1 mama dengan kursi roda dan dua keponakanku yang sudah dewasa. Kursi roda memainkan peran sangat krusial dalam episode ini pembaca, karena ada jalur khusus non ngantri untuknya. Mama memakai kursi roda hanya untuk keperluan ’mengirit penggunaan kaki’ yang sempat operasi di masa lalu. Cuaca panas disengat matahari, antrian begitu panjang, begitu banyak yang ingin dikunjungi membuat kami berunding dan muncullah akal-akalan cerdas nan lihai di luar Paviliun Perancis saat itu. Satu ponakan mendorong mama masuk melalui jalur non ngantri, aku dan satu ponakan duduk manis kepanasan di luar. Setelah mereka keluar, gantian satu ponakan dan aku masuk melalui jalur non ngantri dengan penuh percaya diri, hlo kog bisa ? ya tentu saja, karena kali ini aku yang duduk di kursi roda ! agak gila ? kayaknya memang iya. Aku mengacungkan pasport pada penjaga yang kemudian menggelengkan kepala dan berkata ”Hanya untuk pasport Perancis” sambil menuding papan pengumuman pada butir ke 6. Tidak mau kalah, aku menuding butir ke 2 di papan yang sama yang berbunyi ”Handicapped” sambil ngoceh dikit dalam bahasa Inggris. Seperti dugaanku, penjaga cowok muda Chinese tersebut ’takut’ (penduduk setempat ’takut’ dengan orang berbahasa Inggris karena mereka tidak bisa) dan lantas menyilahkan kami lewat. Sukses pertama.
Sukses kedua terjadi di Paviliun Inggris yang bentuknya mengambil inspirasi dari topi penjaga istana Buckingham. Tanpa perlawanan dari pihak penjaga sama sekali kali ini.
Terinspirasi kata-kata ”Hanya untuk pasport Perancis”, berikutnya kami ke Paviliun Indonesia. Selain karena cinta negara, motivasi kami saat itu adalah ’mencari Paviliun yang tidak perlu ngantri’ sedemikian rupa sehingga Paviliun Jerman yang tegas keras tidak memberikan dispensasi bagi kursi roda – kami tinggalkan. Benar saja, dengan melambaikan pasport Indonesia yang sakti mandraguna, kami melenggang di jalur non ngantri. Kali ini kami berempat sekaligus masuk, seperti di rumah sendiri. Mendirikan dan mengisi paviliun berbahan kayu dengan formasi lantai berpilin dari lantai 1 ke 4 (kalau tidak salah sih 4, kalau salah ya tolong maafkanlah) itu menghabiskan dana sekitar 80 milyar rupiah. Kalau pembaca bertanya darimana saya tahu angka tersebut, makin panjanglah cerita ini dan karena tidak penting darimana saya tahu, sudahlah percaya saja. Sponsornya adalah beberapa perusahaan kelas atas Indonesia. Isinya ? luar biasa... Indonesia sepertinya ’habis-habisan’ memamerkan semua barang yang bisa diusung ke sana : topeng-topeng segala suku di Indonesia menghias dinding persegi panjang sampai tinggi menjulang, batik, keris, gamelan sekian set, angklung yang bertulisan ”dont touch” tapi ditaruh pada posisi yang merangsang orang untuk men-touch, perahu kayu tradisional, berbagai jenis ani-ani (penyabit padi) dalam bentuk-bentuk anehnya yang sempat kami perdebatkan karena dikira keponakanku sebagai koleksi boneka-boneka burung, dan yang luar biasa ada beberapa becak nangkring di situ ! Oh, senangnya hatiku..Harap diketahui bahwa masa kecilku ’dipenuhi dengan becak’ karena di kota kelahiranku jaman dahulu kami adalah pengusaha becak. Feels like home.
Pulau Komodo sangat ditonjolkan selain Borobudur. Sepertinya berkaitan dengan rame-ramenya Pulau Komodo yang diajukan sebagai ”Keajaiban Dunia”. Bali tidak terlalu di jual kali ini. Kalau di Paviliun negara maju miskin barang nyata yang bisa dijamah – karena isinya screen dan tayangan-tayangan teknologi tinggi – di Indonesia kaya barang nyata termasuk nyata-nyata berjualan di dalam pavilun yaitu kedai kopi Luwak dan juga mini canteen berjualan minuman2 Indonesia macam Teh Sosro. Sepertinya paviliun lain tidak ada yang berjualan deh. Lebih serunya lagi, di pintu keluar ada jualan makanan salah satunya sate dengan kepulan asap besar bergumpal-gumpal. Lho, ini mengkhianati tema World Expo kali ini dong: Better City, Better Life dimana isu mengenai reduksi zat polutan dan green ecology diusung. Ck ck ck, nekad... anyway, banyak juga pembeli satenya. Ikut senang melihat pengunjung berjubel-jubel di paviliun negaraku.
Ngomong-ngomong tentang green ecology, memang Indonesia ditampilkan green di sana. Suara burung berkicau di hutan dan gemerisik dedaunan sayup-sayup di perdengarkan di dalam paviliun. Teduh rasanya. Di salah satu sudut terdapat pohon pisang yang tidak terlalu subur. Nah, ada adegan yang bikin aku ngakak di sudut ini. Ada tante warga China yang berpose di bawah pohon pisang dengan berganti-ganti gaya : gaya pegang ujung daun pisang, gaya memeluk pohon pisang, gaya tersenyum di depan pohon pisang...serba pisang dah. Dan si om memotretnya dengan antusiasme yang tidak mungkin kujumpai di propinsi Indonesia manapun. Bagi yang pernah melihat orang Indonesia antusias dan bangga dan senang berpose di depan pohon pisang yang tidak terlalu subur - yang bukan untuk kepentingan pemotretan iklan- tolong kasi tau saya ya.
Itulah sebagian kisahku di Shanghai Expo, akal-akalan demi tidak ngantri dan juga mengagumi negeri sendiri.
Minggu, 17 Oktober 2010
Selasa, 05 Oktober 2010
Lily di China (Cawan Emosi).
Cawan putih bermotif daun-daun mungil milik Maskapai Penerbangan Cathay Pacific, sudah berganti kepemilikan dan saat ini tersimpan rapi di lemari dapurku. Cawan itu memang cantik. Bagi yang sempat mendakwaku sebagai ‘maling property pesawat” harap mencabut dakwaannya karena aku secara terbuka memintanya pada pramugari yang seperti sudah kuduga pasti mengijinkannya. (pernah tau yang lebih parah dariku yaitu meminta selimut untuk dibawa pulang sebagai kenang2an dan diberikan ? dari situlah inspirasiku berasal). Walaupun aku ingin dua buah, namun untuk alasan ehm..kesopanan, maka aku meminta hanya satu. Selain itu toh aku sudah merencakan meminta satu lagi pada penerbanganku yang berikutnya.
Penerbangan berikutnya yang kumaksud adalah Hongkong- Jakarta. Hari itu kondisi “siaga satu typhoon”. Typhoon alias taifun adalah angin kencang yang sering bertamu di Hongkong.. Sore saat itu, dari kaca ruang tunggu terlihat derasnya hujan dan sesekali kilat menyambar. Bukan cuaca yang indah untuk terbang bukan ? namun toh Boeing 747 ku harus terbang, jadi setelah 2 jam tertunda, kami lepas landas dalam keremangan malam. Tak ada halangan.. Aku menantikan saat-saat indah perjumpaan dengan cawan putih incaranku saat pesawat terasa bak mobil sedang meluncur di atas jalan berbatu-batu. Anak-anak tertawa-tawa, mungkin sensasinya mengingatkan mereka pada wahana di Disneyland yang kemarin mereka naiki sementara orang dewasa mulai merasa resah. Tanpa pemberitahuan sebelumnya mendadak pesawat anjlok diiringi dengan paduan suara bernada dasar A : “Aaaaaaaaaaaaaa” kompak terdengar dimana-mana, wanita pria tua muda…mungkin juga banci kalau ada…Ada handphone terpental, dan entah apa lagi… yang pasti aku serasa duduk di jet coaster yang sedang ada dipuncak ketinggian dan kemudian meluncur turun. Lemas…namun batinku kuat bersuara ”Tenang, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.” Aku terharu “Terima kasih Tuhan”. Dalam sekejap pesawat stabil dan aku menunggu. Bukan….bukan menunggu cawan putih tapi menunggu penjelasan, pemberitahuan dan permintaan maaf yang sewajarnya disiarkan dari kokpit paska kejadian anjlok-anjlokan tadi. Hening, tenang, senyap, gelap. Kemudian suasana normal kembali dan nampan-nampan makanan di bagikan. Pertemuanku dengan cawan putih sudah tidak lagi menggembirakan saat itu. Emosi tegang serasa belum diberi wadah yang selayaknya karena tak adanya statement pilot. Taifun? Nabrak awan ? Menghindar kucing nyebrang ? Sebenarnya penjelasan penyebab anjlok bukanlah esensi, tapi statement pilot itulah yang kunanti. Lama setelah itu barulah muncul statement dari kokpit. Emosiku kemudian serasa terwadahi, lega.
Cawan emosi, betapa kita membutuhkannya. Sesuatu untuk mewadahi emosi tegang, marah, kecewa dan air mata. Suatu statement dari lawan bicara yang membuat kita mengerti bahwa ia paham maksud dan perasaan galau kita. Suatu anggukan penuh pengertian atau tepukan di bahu tanda ikut berbela sungkawa. Suatu pernyataan dari pimpinan pada anak buah mengenai kondisi kacau yang sedang terjadi di perusahaan. Suatu pernyataan ayah yang ingin didengar anak laki-lakinya tentang mengapa mobil-mobilan yang dijanjikan belum jua ada. Suatu penjelasan atau alasan dari kekasih mengapa ia datang terlambat. Dalam hal ini bertengkarpun lebih baik daripada diam seribu bahasa. Orang tua yang diam tak mengacuhkan, sering lebih menakutkan bagi anak dibandingkan ketika orang tua cerewet memarahi.
Aku teringat film yang diangkat dari novel Prince of Tides, starring Barbra Streisand & Nick Nolte. Kejadian tragis miris sewaktu Nick kecil yaitu ketika ibu, saudara perempuan dan juga Nick diperkosa di dalam rumah mereka ketika ayah sedang pergi. Setelah pelaku dibunuh dan mereka bergotong royong membersihkan mayat dan darah dan merapikan rumah, si ibu memutuskan untuk menutupi kejadian tersebut dari sang ayah. Ia menyuruh anak-anaknya untuk diam, duduk manis di meja makan menyambut ayah pulang dan berlaku seolah-olah kejadian traumatis tadi tidak pernah ada. Nick dewasa kemudian menuturkan kepada Psikiaternya bahwa “Yang paling menyakitkan bagiku bukan karena diperkosa, tapi karena sikap ibu yang diam saja seolah tidak terjadi apa-apa.”
Cawan emosi, betapa kita membutuhkannya.
Cawan Cathay Pacific ? sekarang saya punya dua..haha.
Penerbangan berikutnya yang kumaksud adalah Hongkong- Jakarta. Hari itu kondisi “siaga satu typhoon”. Typhoon alias taifun adalah angin kencang yang sering bertamu di Hongkong.. Sore saat itu, dari kaca ruang tunggu terlihat derasnya hujan dan sesekali kilat menyambar. Bukan cuaca yang indah untuk terbang bukan ? namun toh Boeing 747 ku harus terbang, jadi setelah 2 jam tertunda, kami lepas landas dalam keremangan malam. Tak ada halangan.. Aku menantikan saat-saat indah perjumpaan dengan cawan putih incaranku saat pesawat terasa bak mobil sedang meluncur di atas jalan berbatu-batu. Anak-anak tertawa-tawa, mungkin sensasinya mengingatkan mereka pada wahana di Disneyland yang kemarin mereka naiki sementara orang dewasa mulai merasa resah. Tanpa pemberitahuan sebelumnya mendadak pesawat anjlok diiringi dengan paduan suara bernada dasar A : “Aaaaaaaaaaaaaa” kompak terdengar dimana-mana, wanita pria tua muda…mungkin juga banci kalau ada…Ada handphone terpental, dan entah apa lagi… yang pasti aku serasa duduk di jet coaster yang sedang ada dipuncak ketinggian dan kemudian meluncur turun. Lemas…namun batinku kuat bersuara ”Tenang, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.” Aku terharu “Terima kasih Tuhan”. Dalam sekejap pesawat stabil dan aku menunggu. Bukan….bukan menunggu cawan putih tapi menunggu penjelasan, pemberitahuan dan permintaan maaf yang sewajarnya disiarkan dari kokpit paska kejadian anjlok-anjlokan tadi. Hening, tenang, senyap, gelap. Kemudian suasana normal kembali dan nampan-nampan makanan di bagikan. Pertemuanku dengan cawan putih sudah tidak lagi menggembirakan saat itu. Emosi tegang serasa belum diberi wadah yang selayaknya karena tak adanya statement pilot. Taifun? Nabrak awan ? Menghindar kucing nyebrang ? Sebenarnya penjelasan penyebab anjlok bukanlah esensi, tapi statement pilot itulah yang kunanti. Lama setelah itu barulah muncul statement dari kokpit. Emosiku kemudian serasa terwadahi, lega.
Cawan emosi, betapa kita membutuhkannya. Sesuatu untuk mewadahi emosi tegang, marah, kecewa dan air mata. Suatu statement dari lawan bicara yang membuat kita mengerti bahwa ia paham maksud dan perasaan galau kita. Suatu anggukan penuh pengertian atau tepukan di bahu tanda ikut berbela sungkawa. Suatu pernyataan dari pimpinan pada anak buah mengenai kondisi kacau yang sedang terjadi di perusahaan. Suatu pernyataan ayah yang ingin didengar anak laki-lakinya tentang mengapa mobil-mobilan yang dijanjikan belum jua ada. Suatu penjelasan atau alasan dari kekasih mengapa ia datang terlambat. Dalam hal ini bertengkarpun lebih baik daripada diam seribu bahasa. Orang tua yang diam tak mengacuhkan, sering lebih menakutkan bagi anak dibandingkan ketika orang tua cerewet memarahi.
Aku teringat film yang diangkat dari novel Prince of Tides, starring Barbra Streisand & Nick Nolte. Kejadian tragis miris sewaktu Nick kecil yaitu ketika ibu, saudara perempuan dan juga Nick diperkosa di dalam rumah mereka ketika ayah sedang pergi. Setelah pelaku dibunuh dan mereka bergotong royong membersihkan mayat dan darah dan merapikan rumah, si ibu memutuskan untuk menutupi kejadian tersebut dari sang ayah. Ia menyuruh anak-anaknya untuk diam, duduk manis di meja makan menyambut ayah pulang dan berlaku seolah-olah kejadian traumatis tadi tidak pernah ada. Nick dewasa kemudian menuturkan kepada Psikiaternya bahwa “Yang paling menyakitkan bagiku bukan karena diperkosa, tapi karena sikap ibu yang diam saja seolah tidak terjadi apa-apa.”
Cawan emosi, betapa kita membutuhkannya.
Cawan Cathay Pacific ? sekarang saya punya dua..haha.
Langganan:
Komentar (Atom)