Cawan putih bermotif daun-daun mungil milik Maskapai Penerbangan Cathay Pacific, sudah berganti kepemilikan dan saat ini tersimpan rapi di lemari dapurku. Cawan itu memang cantik. Bagi yang sempat mendakwaku sebagai ‘maling property pesawat” harap mencabut dakwaannya karena aku secara terbuka memintanya pada pramugari yang seperti sudah kuduga pasti mengijinkannya. (pernah tau yang lebih parah dariku yaitu meminta selimut untuk dibawa pulang sebagai kenang2an dan diberikan ? dari situlah inspirasiku berasal). Walaupun aku ingin dua buah, namun untuk alasan ehm..kesopanan, maka aku meminta hanya satu. Selain itu toh aku sudah merencakan meminta satu lagi pada penerbanganku yang berikutnya.
Penerbangan berikutnya yang kumaksud adalah Hongkong- Jakarta. Hari itu kondisi “siaga satu typhoon”. Typhoon alias taifun adalah angin kencang yang sering bertamu di Hongkong.. Sore saat itu, dari kaca ruang tunggu terlihat derasnya hujan dan sesekali kilat menyambar. Bukan cuaca yang indah untuk terbang bukan ? namun toh Boeing 747 ku harus terbang, jadi setelah 2 jam tertunda, kami lepas landas dalam keremangan malam. Tak ada halangan.. Aku menantikan saat-saat indah perjumpaan dengan cawan putih incaranku saat pesawat terasa bak mobil sedang meluncur di atas jalan berbatu-batu. Anak-anak tertawa-tawa, mungkin sensasinya mengingatkan mereka pada wahana di Disneyland yang kemarin mereka naiki sementara orang dewasa mulai merasa resah. Tanpa pemberitahuan sebelumnya mendadak pesawat anjlok diiringi dengan paduan suara bernada dasar A : “Aaaaaaaaaaaaaa” kompak terdengar dimana-mana, wanita pria tua muda…mungkin juga banci kalau ada…Ada handphone terpental, dan entah apa lagi… yang pasti aku serasa duduk di jet coaster yang sedang ada dipuncak ketinggian dan kemudian meluncur turun. Lemas…namun batinku kuat bersuara ”Tenang, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.” Aku terharu “Terima kasih Tuhan”. Dalam sekejap pesawat stabil dan aku menunggu. Bukan….bukan menunggu cawan putih tapi menunggu penjelasan, pemberitahuan dan permintaan maaf yang sewajarnya disiarkan dari kokpit paska kejadian anjlok-anjlokan tadi. Hening, tenang, senyap, gelap. Kemudian suasana normal kembali dan nampan-nampan makanan di bagikan. Pertemuanku dengan cawan putih sudah tidak lagi menggembirakan saat itu. Emosi tegang serasa belum diberi wadah yang selayaknya karena tak adanya statement pilot. Taifun? Nabrak awan ? Menghindar kucing nyebrang ? Sebenarnya penjelasan penyebab anjlok bukanlah esensi, tapi statement pilot itulah yang kunanti. Lama setelah itu barulah muncul statement dari kokpit. Emosiku kemudian serasa terwadahi, lega.
Cawan emosi, betapa kita membutuhkannya. Sesuatu untuk mewadahi emosi tegang, marah, kecewa dan air mata. Suatu statement dari lawan bicara yang membuat kita mengerti bahwa ia paham maksud dan perasaan galau kita. Suatu anggukan penuh pengertian atau tepukan di bahu tanda ikut berbela sungkawa. Suatu pernyataan dari pimpinan pada anak buah mengenai kondisi kacau yang sedang terjadi di perusahaan. Suatu pernyataan ayah yang ingin didengar anak laki-lakinya tentang mengapa mobil-mobilan yang dijanjikan belum jua ada. Suatu penjelasan atau alasan dari kekasih mengapa ia datang terlambat. Dalam hal ini bertengkarpun lebih baik daripada diam seribu bahasa. Orang tua yang diam tak mengacuhkan, sering lebih menakutkan bagi anak dibandingkan ketika orang tua cerewet memarahi.
Aku teringat film yang diangkat dari novel Prince of Tides, starring Barbra Streisand & Nick Nolte. Kejadian tragis miris sewaktu Nick kecil yaitu ketika ibu, saudara perempuan dan juga Nick diperkosa di dalam rumah mereka ketika ayah sedang pergi. Setelah pelaku dibunuh dan mereka bergotong royong membersihkan mayat dan darah dan merapikan rumah, si ibu memutuskan untuk menutupi kejadian tersebut dari sang ayah. Ia menyuruh anak-anaknya untuk diam, duduk manis di meja makan menyambut ayah pulang dan berlaku seolah-olah kejadian traumatis tadi tidak pernah ada. Nick dewasa kemudian menuturkan kepada Psikiaternya bahwa “Yang paling menyakitkan bagiku bukan karena diperkosa, tapi karena sikap ibu yang diam saja seolah tidak terjadi apa-apa.”
Cawan emosi, betapa kita membutuhkannya.
Cawan Cathay Pacific ? sekarang saya punya dua..haha.
Ik, masyo'oloh ternyata isa minta toh? Tiwas susah2 nyelundupno dari dulu. Aku cuma punya selimut n bantal silk air hasil selundupan temen hehee.. Ga kepikir sampe cawan ae isa diambil :p
BalasHapus-Lita-