Minggu, 17 Oktober 2010

Lily di China (Akal-akalan di Shanghai Expo)

World Expo yang diadakan 4 tahun sekali (atau 5 ya?) dengan durasi pelaksanaan selama 6 bulan, tahun 2010 ini dilangsungkan di Shanghai. Terimbas oleh antusiasme kenalan-kenalanku yang sudah menghadirinya, aku ikutan ke sana. Orang selalu bertanya “Apa yg di pamerkan sih ?” Jawabannya sederhana “satu paviliun untuk satu negara memamerkan eksistensinya.” / “kayak apa?”/ “ya teknologinya, ya budayanya, ya historinya, ya lain-lainnya.” Selain itu ada juga area untuk paviliun2 corporate. Ok, karena skalanya dunia, tentu bukan sembarang expo. Semuanya serba “wah” : luas wilayahnya, keindahan arsitektur dan interior paviliunnya, teknik ventilasinya, jumlah pengunjungnya (skitar 50 ribu pengunjung dalam satu hari) dan of course yang tak kalah ‘wah’ adalah ngantrinya.

Untuk ngantri masuk ke satu paviliun Negara favorit seperti China, USA, Jepang, Arab Saudi, bisa memakan waktu 3-4 jam bahkan lebih. Itu hanya NGANTRI untuk masuk satu paviliun lho. Jadi memang makan waktu beberapa hari bagi yang niat betul untuk mengunjungi berbagai paviliun. Orang-orang yang ngantri (bayangkan formasinya seperti mau masuk wahana di Dufan, seperti ular-ularan), membawa payung, pake sunglases, bawa kursi lipat, bawa minum, makan, jongkok …wis lah kayak piknik rame-rame warga dunia campur aduk gitu.

Formasiku saat itu terdiri dari 4 orang : 1 mama dengan kursi roda dan dua keponakanku yang sudah dewasa. Kursi roda memainkan peran sangat krusial dalam episode ini pembaca, karena ada jalur khusus non ngantri untuknya. Mama memakai kursi roda hanya untuk keperluan ’mengirit penggunaan kaki’ yang sempat operasi di masa lalu. Cuaca panas disengat matahari, antrian begitu panjang, begitu banyak yang ingin dikunjungi membuat kami berunding dan muncullah akal-akalan cerdas nan lihai di luar Paviliun Perancis saat itu. Satu ponakan mendorong mama masuk melalui jalur non ngantri, aku dan satu ponakan duduk manis kepanasan di luar. Setelah mereka keluar, gantian satu ponakan dan aku masuk melalui jalur non ngantri dengan penuh percaya diri, hlo kog bisa ? ya tentu saja, karena kali ini aku yang duduk di kursi roda ! agak gila ? kayaknya memang iya. Aku mengacungkan pasport pada penjaga yang kemudian menggelengkan kepala dan berkata ”Hanya untuk pasport Perancis” sambil menuding papan pengumuman pada butir ke 6. Tidak mau kalah, aku menuding butir ke 2 di papan yang sama yang berbunyi ”Handicapped” sambil ngoceh dikit dalam bahasa Inggris. Seperti dugaanku, penjaga cowok muda Chinese tersebut ’takut’ (penduduk setempat ’takut’ dengan orang berbahasa Inggris karena mereka tidak bisa) dan lantas menyilahkan kami lewat. Sukses pertama.

Sukses kedua terjadi di Paviliun Inggris yang bentuknya mengambil inspirasi dari topi penjaga istana Buckingham. Tanpa perlawanan dari pihak penjaga sama sekali kali ini.

Terinspirasi kata-kata ”Hanya untuk pasport Perancis”, berikutnya kami ke Paviliun Indonesia. Selain karena cinta negara, motivasi kami saat itu adalah ’mencari Paviliun yang tidak perlu ngantri’ sedemikian rupa sehingga Paviliun Jerman yang tegas keras tidak memberikan dispensasi bagi kursi roda – kami tinggalkan. Benar saja, dengan melambaikan pasport Indonesia yang sakti mandraguna, kami melenggang di jalur non ngantri. Kali ini kami berempat sekaligus masuk, seperti di rumah sendiri. Mendirikan dan mengisi paviliun berbahan kayu dengan formasi lantai berpilin dari lantai 1 ke 4 (kalau tidak salah sih 4, kalau salah ya tolong maafkanlah) itu menghabiskan dana sekitar 80 milyar rupiah. Kalau pembaca bertanya darimana saya tahu angka tersebut, makin panjanglah cerita ini dan karena tidak penting darimana saya tahu, sudahlah percaya saja. Sponsornya adalah beberapa perusahaan kelas atas Indonesia. Isinya ? luar biasa... Indonesia sepertinya ’habis-habisan’ memamerkan semua barang yang bisa diusung ke sana : topeng-topeng segala suku di Indonesia menghias dinding persegi panjang sampai tinggi menjulang, batik, keris, gamelan sekian set, angklung yang bertulisan ”dont touch” tapi ditaruh pada posisi yang merangsang orang untuk men-touch, perahu kayu tradisional, berbagai jenis ani-ani (penyabit padi) dalam bentuk-bentuk anehnya yang sempat kami perdebatkan karena dikira keponakanku sebagai koleksi boneka-boneka burung, dan yang luar biasa ada beberapa becak nangkring di situ ! Oh, senangnya hatiku..Harap diketahui bahwa masa kecilku ’dipenuhi dengan becak’ karena di kota kelahiranku jaman dahulu kami adalah pengusaha becak. Feels like home.

Pulau Komodo sangat ditonjolkan selain Borobudur. Sepertinya berkaitan dengan rame-ramenya Pulau Komodo yang diajukan sebagai ”Keajaiban Dunia”. Bali tidak terlalu di jual kali ini. Kalau di Paviliun negara maju miskin barang nyata yang bisa dijamah – karena isinya screen dan tayangan-tayangan teknologi tinggi – di Indonesia kaya barang nyata termasuk nyata-nyata berjualan di dalam pavilun yaitu kedai kopi Luwak dan juga mini canteen berjualan minuman2 Indonesia macam Teh Sosro. Sepertinya paviliun lain tidak ada yang berjualan deh. Lebih serunya lagi, di pintu keluar ada jualan makanan salah satunya sate dengan kepulan asap besar bergumpal-gumpal. Lho, ini mengkhianati tema World Expo kali ini dong: Better City, Better Life dimana isu mengenai reduksi zat polutan dan green ecology diusung. Ck ck ck, nekad... anyway, banyak juga pembeli satenya. Ikut senang melihat pengunjung berjubel-jubel di paviliun negaraku.

Ngomong-ngomong tentang green ecology, memang Indonesia ditampilkan green di sana. Suara burung berkicau di hutan dan gemerisik dedaunan sayup-sayup di perdengarkan di dalam paviliun. Teduh rasanya. Di salah satu sudut terdapat pohon pisang yang tidak terlalu subur. Nah, ada adegan yang bikin aku ngakak di sudut ini. Ada tante warga China yang berpose di bawah pohon pisang dengan berganti-ganti gaya : gaya pegang ujung daun pisang, gaya memeluk pohon pisang, gaya tersenyum di depan pohon pisang...serba pisang dah. Dan si om memotretnya dengan antusiasme yang tidak mungkin kujumpai di propinsi Indonesia manapun. Bagi yang pernah melihat orang Indonesia antusias dan bangga dan senang berpose di depan pohon pisang yang tidak terlalu subur - yang bukan untuk kepentingan pemotretan iklan- tolong kasi tau saya ya.

Itulah sebagian kisahku di Shanghai Expo, akal-akalan demi tidak ngantri dan juga mengagumi negeri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar