Seingatku, orbituari di koran sudah membuatku shock sebanyak 5 kali. Bagi yang lupa, orbituari adalah kotak berita duka cita. Yang paling gress adalah minggu lalu ketika hendak membaca artikel “Tertawa Itu Sehat” di harian Kompas dan entah mengapa sebelumnya mataku singgah di orbituari di halaman yang sama. Saat melihat nama temanku di sana, aku langsung mengabaikan artikel tadi yang sangat kontras dengan kondisi hatiku. Kubaca berulang-ulang namanya dan nama anggota keluarganya yang kukenal... kuamati fotonya...aku tidak salah orang. Sayangnya koran yang kubaca sudah kadaluwarsa sehingga aku melewatkan pemakamannya. Padahal bulan lalu kami ketemu di Yahoo Messanger setelah sekian tahun tidak kontak dan kami janji ketemu kalau dia kembali dari berobat di luar negri.. Aku duduk termangu di lobi apartemenku.....belasan tahun yang lalu dia teman baikku. Life is short.
Kejadian ke 4, saat aku menjenguk pamanku yang hendak operasi jantung. Bertemu dengan pria eksekutif muda kaya yang adalah famili pamanku, dia berpenampilan rapi necis riang gembira bawel dan mengesankan karena berpromosi habis-habisan tentang dokter jantung di luar negri yang telah sukses mengoperasinya. (Mungkin cukup tepat bila si dokter ku beri gelar “Lord of The Rings” karena sudah sukses memasang ring-ring di jantung sekian banyak manusia.). Pria eksekutif muda memberikan kartu nama si dokter pada pamanku seolah memaksa pamanku keluar dari RS sekarang juga. Satu minggu sesudahnya aku membuka koran -yaitu setelah pamanku tidak jadi dioperasi karena ternyata tidak perlu- dan...pria eksekutif muda kaya yang umurnya separonya pamanku ada di dalam orbituari...serangan jantung ternyata. Life is short. (oh ya, gelar Lord of The Rings harus dicopot sepertinya)
Kejadian ke 3, aku pernah menjadi relawan di RSJ – bukan Rumah Sakit Jakarta tapi Rumah Sakit Jiwa, di Semarang. Bertemu dan ngobrol dengan gadis muda berkulit bersih dan secara fisik normal. Sepertinya episode depresinya sudah lewat. Beberapa hari kemudian, aku membuka koran dan...seperti yang Anda duga, dia ada di dalam orbituari.. Dalam teori Psikologi, orang yang sedang dalam lembah terdalam depresi tidak bisa bunuh diri karena ia tidak punya energi mental/ semangat/ inisiatif yang cukup untuk membunuh dirinya sendiri. Namun justru setelah episode depresinya lewat dan ia mulai memiliki energi/ inisiatif untuk melakukan sesuatu, maka itulah ‘saat yang paling tepat” untuk melakukan aksi bunuh diri. Life is short.
Kejadian ke 2, tiga bulan setelah melayat teman masa kecil yang meninggal, aku membuka koran dan melihat...ibu dari temanku tadi ada di orbituari...kesedihan yang mendalam ditinggal oleh putrinya menjadi salah satu faktor pemicu. Kembali sebentar pada adegan melayat teman masa kecilku tadi, ketika duduk di ruang duka aku tengak-tengok melihat ruang sebelahnya seperti hendak memilih menu di food court saja. Ternyata kebiasaanku itu berbuntut petaka... belum habis shock karena teman masa kecilku meninggal mendadak dalam usia muda 20 tahun-an, aku kena shock lagi karena ruang sebelah yang kulirik memasang foto teman SMA ku ! Aku lihat fotonya, baca namanya, lihat fotonya, baca namanya...tidak salah lagi. Setelah berpamitan dengan ibu temanku yang tiga bulan berikutnya bakal muncul di orbituari, aku pindah ke ruang sebelah.... Life is short
Kejadian pertama, suatu hari saat SMA aku membuka koran dari halaman pertama sampai terakhir dan seperti orang resah aku kembali membolak-balik halamannya sampai mataku tertuju pada orbituari....teman SMP ada di sana, dulu kami dekat. Sejak berbeda SMA, kami tidak tahu kabar masing-masing. Ternyata sudah beberapa kali dia melakukan percobaan bunuh diri. Kemunculan di orbituari merupakan bukti keberhasilan percobaannya. Life is short.
Bayi-bayi wafat, anak-anak SD SMP SMA meninggal, mahasiswa berhenti bernafas, jantung orang muda berhenti berdetak, ibu muda meninggal, kakek menghembuskan nafas terakhir.... kalau aku membuat daftar nama orang-orang dari berbagai usia yang kukenal yang sudah mendahuluiku ‘pergi jauh’, cukup panjang.... merenungkan mereka semua, aku merasa seperti seorang kontestan lomba yang ‘sudah lolos ke babak selanjutnya’ karena bisa melewati masa kecil, remaja, dewasa muda dalam kondisi hidup & bernafas seperti saat ini sementara ada orang yang ‘tidak lolos ke babak selanjutnya’ entah di babak awal, perempat final, atau semi final.
Life is short.
Tapi ada yang panjang dan tidak berakhir, yaitu hidup kekal.
Walaupun tidak pernah tahu kapan pergi ke alam baka, namun sebaiknya perlu siap jauh hari dengan ‘koper, pasport dan visa’.
Rick Warren pengarang buku laris “Purpose Driven Life” bilang hidup di dunia adalah ‘gladi bersih’ dari hidup kekal.
Jadi, mari lakukan gladi bersih tiap hari... berlatih membersihkan hati, berlatih mengampuni, berlatih mengasihi agar Sang Khalik menilai kita cocok dengan atmosfir Surga Mulia sehingga kita diterima di Sana..
Like thissssss :D
BalasHapuskalo aku pernah baca Selasa Bersama Morrie karangan Mitch Albom (mgkn cici tau?), dan buku ini mengubah pandangan aku ttg kematian. selain jg pelajaran2 di Psi Perk, bahwa memang kematian adl bagian dari hdp, bahkan bagian yg pasti akan dialami manusia. so ga perlu takut or parno... yg ptg spt yg cici blg, siap2 aja utk menuhin pasport ke hdp kekal dg perilaku baik, perbuatan2 baik... shg kapanpun kematian menjemput, kt bs tersenyum dan berkata "saya siap." :)
ya ela, Tuesdays With Morie adl favorit ku jg.. btw namamu berubah ya ..apa artinya marooned mom?
BalasHapus