Minggu, 17 Oktober 2010

Lily di China (Akal-akalan di Shanghai Expo)

World Expo yang diadakan 4 tahun sekali (atau 5 ya?) dengan durasi pelaksanaan selama 6 bulan, tahun 2010 ini dilangsungkan di Shanghai. Terimbas oleh antusiasme kenalan-kenalanku yang sudah menghadirinya, aku ikutan ke sana. Orang selalu bertanya “Apa yg di pamerkan sih ?” Jawabannya sederhana “satu paviliun untuk satu negara memamerkan eksistensinya.” / “kayak apa?”/ “ya teknologinya, ya budayanya, ya historinya, ya lain-lainnya.” Selain itu ada juga area untuk paviliun2 corporate. Ok, karena skalanya dunia, tentu bukan sembarang expo. Semuanya serba “wah” : luas wilayahnya, keindahan arsitektur dan interior paviliunnya, teknik ventilasinya, jumlah pengunjungnya (skitar 50 ribu pengunjung dalam satu hari) dan of course yang tak kalah ‘wah’ adalah ngantrinya.

Untuk ngantri masuk ke satu paviliun Negara favorit seperti China, USA, Jepang, Arab Saudi, bisa memakan waktu 3-4 jam bahkan lebih. Itu hanya NGANTRI untuk masuk satu paviliun lho. Jadi memang makan waktu beberapa hari bagi yang niat betul untuk mengunjungi berbagai paviliun. Orang-orang yang ngantri (bayangkan formasinya seperti mau masuk wahana di Dufan, seperti ular-ularan), membawa payung, pake sunglases, bawa kursi lipat, bawa minum, makan, jongkok …wis lah kayak piknik rame-rame warga dunia campur aduk gitu.

Formasiku saat itu terdiri dari 4 orang : 1 mama dengan kursi roda dan dua keponakanku yang sudah dewasa. Kursi roda memainkan peran sangat krusial dalam episode ini pembaca, karena ada jalur khusus non ngantri untuknya. Mama memakai kursi roda hanya untuk keperluan ’mengirit penggunaan kaki’ yang sempat operasi di masa lalu. Cuaca panas disengat matahari, antrian begitu panjang, begitu banyak yang ingin dikunjungi membuat kami berunding dan muncullah akal-akalan cerdas nan lihai di luar Paviliun Perancis saat itu. Satu ponakan mendorong mama masuk melalui jalur non ngantri, aku dan satu ponakan duduk manis kepanasan di luar. Setelah mereka keluar, gantian satu ponakan dan aku masuk melalui jalur non ngantri dengan penuh percaya diri, hlo kog bisa ? ya tentu saja, karena kali ini aku yang duduk di kursi roda ! agak gila ? kayaknya memang iya. Aku mengacungkan pasport pada penjaga yang kemudian menggelengkan kepala dan berkata ”Hanya untuk pasport Perancis” sambil menuding papan pengumuman pada butir ke 6. Tidak mau kalah, aku menuding butir ke 2 di papan yang sama yang berbunyi ”Handicapped” sambil ngoceh dikit dalam bahasa Inggris. Seperti dugaanku, penjaga cowok muda Chinese tersebut ’takut’ (penduduk setempat ’takut’ dengan orang berbahasa Inggris karena mereka tidak bisa) dan lantas menyilahkan kami lewat. Sukses pertama.

Sukses kedua terjadi di Paviliun Inggris yang bentuknya mengambil inspirasi dari topi penjaga istana Buckingham. Tanpa perlawanan dari pihak penjaga sama sekali kali ini.

Terinspirasi kata-kata ”Hanya untuk pasport Perancis”, berikutnya kami ke Paviliun Indonesia. Selain karena cinta negara, motivasi kami saat itu adalah ’mencari Paviliun yang tidak perlu ngantri’ sedemikian rupa sehingga Paviliun Jerman yang tegas keras tidak memberikan dispensasi bagi kursi roda – kami tinggalkan. Benar saja, dengan melambaikan pasport Indonesia yang sakti mandraguna, kami melenggang di jalur non ngantri. Kali ini kami berempat sekaligus masuk, seperti di rumah sendiri. Mendirikan dan mengisi paviliun berbahan kayu dengan formasi lantai berpilin dari lantai 1 ke 4 (kalau tidak salah sih 4, kalau salah ya tolong maafkanlah) itu menghabiskan dana sekitar 80 milyar rupiah. Kalau pembaca bertanya darimana saya tahu angka tersebut, makin panjanglah cerita ini dan karena tidak penting darimana saya tahu, sudahlah percaya saja. Sponsornya adalah beberapa perusahaan kelas atas Indonesia. Isinya ? luar biasa... Indonesia sepertinya ’habis-habisan’ memamerkan semua barang yang bisa diusung ke sana : topeng-topeng segala suku di Indonesia menghias dinding persegi panjang sampai tinggi menjulang, batik, keris, gamelan sekian set, angklung yang bertulisan ”dont touch” tapi ditaruh pada posisi yang merangsang orang untuk men-touch, perahu kayu tradisional, berbagai jenis ani-ani (penyabit padi) dalam bentuk-bentuk anehnya yang sempat kami perdebatkan karena dikira keponakanku sebagai koleksi boneka-boneka burung, dan yang luar biasa ada beberapa becak nangkring di situ ! Oh, senangnya hatiku..Harap diketahui bahwa masa kecilku ’dipenuhi dengan becak’ karena di kota kelahiranku jaman dahulu kami adalah pengusaha becak. Feels like home.

Pulau Komodo sangat ditonjolkan selain Borobudur. Sepertinya berkaitan dengan rame-ramenya Pulau Komodo yang diajukan sebagai ”Keajaiban Dunia”. Bali tidak terlalu di jual kali ini. Kalau di Paviliun negara maju miskin barang nyata yang bisa dijamah – karena isinya screen dan tayangan-tayangan teknologi tinggi – di Indonesia kaya barang nyata termasuk nyata-nyata berjualan di dalam pavilun yaitu kedai kopi Luwak dan juga mini canteen berjualan minuman2 Indonesia macam Teh Sosro. Sepertinya paviliun lain tidak ada yang berjualan deh. Lebih serunya lagi, di pintu keluar ada jualan makanan salah satunya sate dengan kepulan asap besar bergumpal-gumpal. Lho, ini mengkhianati tema World Expo kali ini dong: Better City, Better Life dimana isu mengenai reduksi zat polutan dan green ecology diusung. Ck ck ck, nekad... anyway, banyak juga pembeli satenya. Ikut senang melihat pengunjung berjubel-jubel di paviliun negaraku.

Ngomong-ngomong tentang green ecology, memang Indonesia ditampilkan green di sana. Suara burung berkicau di hutan dan gemerisik dedaunan sayup-sayup di perdengarkan di dalam paviliun. Teduh rasanya. Di salah satu sudut terdapat pohon pisang yang tidak terlalu subur. Nah, ada adegan yang bikin aku ngakak di sudut ini. Ada tante warga China yang berpose di bawah pohon pisang dengan berganti-ganti gaya : gaya pegang ujung daun pisang, gaya memeluk pohon pisang, gaya tersenyum di depan pohon pisang...serba pisang dah. Dan si om memotretnya dengan antusiasme yang tidak mungkin kujumpai di propinsi Indonesia manapun. Bagi yang pernah melihat orang Indonesia antusias dan bangga dan senang berpose di depan pohon pisang yang tidak terlalu subur - yang bukan untuk kepentingan pemotretan iklan- tolong kasi tau saya ya.

Itulah sebagian kisahku di Shanghai Expo, akal-akalan demi tidak ngantri dan juga mengagumi negeri sendiri.

Selasa, 05 Oktober 2010

Lily di China (Cawan Emosi).

Cawan putih bermotif daun-daun mungil milik Maskapai Penerbangan Cathay Pacific, sudah berganti kepemilikan dan saat ini tersimpan rapi di lemari dapurku. Cawan itu memang cantik. Bagi yang sempat mendakwaku sebagai ‘maling property pesawat” harap mencabut dakwaannya karena aku secara terbuka memintanya pada pramugari yang seperti sudah kuduga pasti mengijinkannya. (pernah tau yang lebih parah dariku yaitu meminta selimut untuk dibawa pulang sebagai kenang2an dan diberikan ? dari situlah inspirasiku berasal). Walaupun aku ingin dua buah, namun untuk alasan ehm..kesopanan, maka aku meminta hanya satu. Selain itu toh aku sudah merencakan meminta satu lagi pada penerbanganku yang berikutnya.

Penerbangan berikutnya yang kumaksud adalah Hongkong- Jakarta. Hari itu kondisi “siaga satu typhoon”. Typhoon alias taifun adalah angin kencang yang sering bertamu di Hongkong.. Sore saat itu, dari kaca ruang tunggu terlihat derasnya hujan dan sesekali kilat menyambar. Bukan cuaca yang indah untuk terbang bukan ? namun toh Boeing 747 ku harus terbang, jadi setelah 2 jam tertunda, kami lepas landas dalam keremangan malam. Tak ada halangan.. Aku menantikan saat-saat indah perjumpaan dengan cawan putih incaranku saat pesawat terasa bak mobil sedang meluncur di atas jalan berbatu-batu. Anak-anak tertawa-tawa, mungkin sensasinya mengingatkan mereka pada wahana di Disneyland yang kemarin mereka naiki sementara orang dewasa mulai merasa resah. Tanpa pemberitahuan sebelumnya mendadak pesawat anjlok diiringi dengan paduan suara bernada dasar A : “Aaaaaaaaaaaaaa” kompak terdengar dimana-mana, wanita pria tua muda…mungkin juga banci kalau ada…Ada handphone terpental, dan entah apa lagi… yang pasti aku serasa duduk di jet coaster yang sedang ada dipuncak ketinggian dan kemudian meluncur turun. Lemas…namun batinku kuat bersuara ”Tenang, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.” Aku terharu “Terima kasih Tuhan”. Dalam sekejap pesawat stabil dan aku menunggu. Bukan….bukan menunggu cawan putih tapi menunggu penjelasan, pemberitahuan dan permintaan maaf yang sewajarnya disiarkan dari kokpit paska kejadian anjlok-anjlokan tadi. Hening, tenang, senyap, gelap. Kemudian suasana normal kembali dan nampan-nampan makanan di bagikan. Pertemuanku dengan cawan putih sudah tidak lagi menggembirakan saat itu. Emosi tegang serasa belum diberi wadah yang selayaknya karena tak adanya statement pilot. Taifun? Nabrak awan ? Menghindar kucing nyebrang ? Sebenarnya penjelasan penyebab anjlok bukanlah esensi, tapi statement pilot itulah yang kunanti. Lama setelah itu barulah muncul statement dari kokpit. Emosiku kemudian serasa terwadahi, lega.

Cawan emosi, betapa kita membutuhkannya. Sesuatu untuk mewadahi emosi tegang, marah, kecewa dan air mata. Suatu statement dari lawan bicara yang membuat kita mengerti bahwa ia paham maksud dan perasaan galau kita. Suatu anggukan penuh pengertian atau tepukan di bahu tanda ikut berbela sungkawa. Suatu pernyataan dari pimpinan pada anak buah mengenai kondisi kacau yang sedang terjadi di perusahaan. Suatu pernyataan ayah yang ingin didengar anak laki-lakinya tentang mengapa mobil-mobilan yang dijanjikan belum jua ada. Suatu penjelasan atau alasan dari kekasih mengapa ia datang terlambat. Dalam hal ini bertengkarpun lebih baik daripada diam seribu bahasa. Orang tua yang diam tak mengacuhkan, sering lebih menakutkan bagi anak dibandingkan ketika orang tua cerewet memarahi.

Aku teringat film yang diangkat dari novel Prince of Tides, starring Barbra Streisand & Nick Nolte. Kejadian tragis miris sewaktu Nick kecil yaitu ketika ibu, saudara perempuan dan juga Nick diperkosa di dalam rumah mereka ketika ayah sedang pergi. Setelah pelaku dibunuh dan mereka bergotong royong membersihkan mayat dan darah dan merapikan rumah, si ibu memutuskan untuk menutupi kejadian tersebut dari sang ayah. Ia menyuruh anak-anaknya untuk diam, duduk manis di meja makan menyambut ayah pulang dan berlaku seolah-olah kejadian traumatis tadi tidak pernah ada. Nick dewasa kemudian menuturkan kepada Psikiaternya bahwa “Yang paling menyakitkan bagiku bukan karena diperkosa, tapi karena sikap ibu yang diam saja seolah tidak terjadi apa-apa.”

Cawan emosi, betapa kita membutuhkannya.

Cawan Cathay Pacific ? sekarang saya punya dua..haha.

Rabu, 22 September 2010

Lily di Cina (Indahnya Bunga-Bunga)

BUAAAHHHH…croot, air-air muncrat dari mulut si om berakibat membasahi sekuntum bunga matahari lebar tinggi kuning menyala. BUAAAHHHH …crot, sekali lagi terjadi. Aku berhenti dari berjalan. Heran. Jelas banget si om tidak sedang tersedak, ia menuang air kemasan ke mulut dan menyemprotkannya dengan kekuatan penuh sampai-sampai kepalanya berayun dari belakang ke depan seperti sedang meludahi musuh bebuyutan. Adat istiadat salah satu dari 56 suku di Cina kah menyembur bunga matahari? Membawa hoki ? Bukan. Aksi si om kemudian adalah membidikkan kamera SLR nya. Ya ampun, dasar…adatnya fotografer ternyata.

Botany Garden Beijing, Cina. Minggu pagi aku ada disana. Aku bukan botanist atau naturalist, buta nama bunga kecuali mawar melati...semuanya indah, kusiram semua…hahaha. (aku ragu anak sekarang tahu lagu Lihat Kebunku). Tapi aku suka melihat bunga aneka bentuk warna rupa, menyegarkan mata. Pink, ungu, lembayung, merah menyala, merah redup, oranye terang, kuning menyala, kuning kalem…pendek, tinggi, kecil, lebar, besar, kuncup, bergerombol, tunggal…semua tampak indah. Hampir semua bunga yang kulewati kupotret dari berbagai sudut, dengan gayaku nungging, jongkok, jinjit seolah mereka flora langka atau seolah aku pecinta sejati flora-flora se Cina. Entahlah.. cuaca segar sejuk Beijing bulan September sekitar 20 derajat celcius, penataan taman yang prima, pegunungan anggun berjejer melatarbelakangi sekeliling taman, fotografer dimana-mana dan kesadaran aku sedang di Botany Garden ibukota Cina nun jauh di sana membuat hatiku tergugah indah oleh bebungaan tersebut. Aku puas. Apalagi sempat terjepret olehku dua kupu-kupu yang sedang mengembangkan kedua sayapnya di segerombolan bunga. Cantik.

Dua hari lalu aku ada di Cina, tadi jalan pagi keliling kompleks apartemenku di Jakarta. Yang terjadi adalah aku heran dan takjub dan kaget dan melongo. Bukannya aku tidak tahu ada banyak bunga dan tanaman di sana, tapi kog ternyata banyak bunga dan tanaman indah ya? banyak sekali..ada gerombolan tanaman daun hijau tanpa bunga, tinggi di atas kepalaku yang pucuk-pucuknya berwarna kemerahan -hanya pucuk-pucuknya saja…unik sekali. Ada Lily putih yang pernah dipetikkan oleh seorang bocah Korea untukku ketika kami berpapasan (sungguh bukan suatu pemaksaan olehku melainkan ketulusan hati bocah manis itu, percayalah padaku), ada Water Lily, ada Heliconia oranye kuning (terbukti statementku tentang mawar melati di atas adalah bohong belaka- tapi sudahlah ampuni saja), ada gerombolan daun berwarna mayoritas putih dan sedikit hijau. Ternyata satu tahun enam bulan tinggal di sini dan sering jalan pagi tidak membuatku menyadari apalagi mengagumi keindahan bebungaan di tempat yang paling dekat dengan ku.

Alamak ! Bukankah kita seringkali demikian ? Mengagumi sesuatu yang jauh dan tidak menghargai yang dekat. Melek terhadap keindahan di tempat yang jauh dan buta terhadap keindahan di tempat yang dekat. Melihat istri, suami, orang tua, anak tetangga ‘lebih hijau’ dibanding milik sendiri. Tidak jelas antara mengagumi atau meng-iri-i pekerjaan, bakat, kemampuan dan rejeki orang lain yang berbuahkan perasaan tidak senang terhadap diri sendiri. Apa lagi ? Sebutkanlah sendiri dalam hati. Banyak hal indah yang ternyata dekat lho, mari cermati, kagumi dan hargai.
Satu hal lagi, jangan heran kalau bertemu dengan seseorang yang berulangkali menyembur bunga di sebuah taman apartemen di Jakarta…bisa jadi itu saya, haha.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Lily & Orbituari

Seingatku, orbituari di koran sudah membuatku shock sebanyak 5 kali. Bagi yang lupa, orbituari adalah kotak berita duka cita. Yang paling gress adalah minggu lalu ketika hendak membaca artikel “Tertawa Itu Sehat” di harian Kompas dan entah mengapa sebelumnya mataku singgah di orbituari di halaman yang sama. Saat melihat nama temanku di sana, aku langsung mengabaikan artikel tadi yang sangat kontras dengan kondisi hatiku. Kubaca berulang-ulang namanya dan nama anggota keluarganya yang kukenal... kuamati fotonya...aku tidak salah orang. Sayangnya koran yang kubaca sudah kadaluwarsa sehingga aku melewatkan pemakamannya. Padahal bulan lalu kami ketemu di Yahoo Messanger setelah sekian tahun tidak kontak dan kami janji ketemu kalau dia kembali dari berobat di luar negri.. Aku duduk termangu di lobi apartemenku.....belasan tahun yang lalu dia teman baikku. Life is short.

Kejadian ke 4, saat aku menjenguk pamanku yang hendak operasi jantung. Bertemu dengan pria eksekutif muda kaya yang adalah famili pamanku, dia berpenampilan rapi necis riang gembira bawel dan mengesankan karena berpromosi habis-habisan tentang dokter jantung di luar negri yang telah sukses mengoperasinya. (Mungkin cukup tepat bila si dokter ku beri gelar “Lord of The Rings” karena sudah sukses memasang ring-ring di jantung sekian banyak manusia.). Pria eksekutif muda memberikan kartu nama si dokter pada pamanku seolah memaksa pamanku keluar dari RS sekarang juga. Satu minggu sesudahnya aku membuka koran -yaitu setelah pamanku tidak jadi dioperasi karena ternyata tidak perlu- dan...pria eksekutif muda kaya yang umurnya separonya pamanku ada di dalam orbituari...serangan jantung ternyata. Life is short. (oh ya, gelar Lord of The Rings harus dicopot sepertinya)

Kejadian ke 3, aku pernah menjadi relawan di RSJ – bukan Rumah Sakit Jakarta tapi Rumah Sakit Jiwa, di Semarang. Bertemu dan ngobrol dengan gadis muda berkulit bersih dan secara fisik normal. Sepertinya episode depresinya sudah lewat. Beberapa hari kemudian, aku membuka koran dan...seperti yang Anda duga, dia ada di dalam orbituari.. Dalam teori Psikologi, orang yang sedang dalam lembah terdalam depresi tidak bisa bunuh diri karena ia tidak punya energi mental/ semangat/ inisiatif yang cukup untuk membunuh dirinya sendiri. Namun justru setelah episode depresinya lewat dan ia mulai memiliki energi/ inisiatif untuk melakukan sesuatu, maka itulah ‘saat yang paling tepat” untuk melakukan aksi bunuh diri. Life is short.

Kejadian ke 2, tiga bulan setelah melayat teman masa kecil yang meninggal, aku membuka koran dan melihat...ibu dari temanku tadi ada di orbituari...kesedihan yang mendalam ditinggal oleh putrinya menjadi salah satu faktor pemicu. Kembali sebentar pada adegan melayat teman masa kecilku tadi, ketika duduk di ruang duka aku tengak-tengok melihat ruang sebelahnya seperti hendak memilih menu di food court saja. Ternyata kebiasaanku itu berbuntut petaka... belum habis shock karena teman masa kecilku meninggal mendadak dalam usia muda 20 tahun-an, aku kena shock lagi karena ruang sebelah yang kulirik memasang foto teman SMA ku ! Aku lihat fotonya, baca namanya, lihat fotonya, baca namanya...tidak salah lagi. Setelah berpamitan dengan ibu temanku yang tiga bulan berikutnya bakal muncul di orbituari, aku pindah ke ruang sebelah.... Life is short

Kejadian pertama, suatu hari saat SMA aku membuka koran dari halaman pertama sampai terakhir dan seperti orang resah aku kembali membolak-balik halamannya sampai mataku tertuju pada orbituari....teman SMP ada di sana, dulu kami dekat. Sejak berbeda SMA, kami tidak tahu kabar masing-masing. Ternyata sudah beberapa kali dia melakukan percobaan bunuh diri. Kemunculan di orbituari merupakan bukti keberhasilan percobaannya. Life is short.

Bayi-bayi wafat, anak-anak SD SMP SMA meninggal, mahasiswa berhenti bernafas, jantung orang muda berhenti berdetak, ibu muda meninggal, kakek menghembuskan nafas terakhir.... kalau aku membuat daftar nama orang-orang dari berbagai usia yang kukenal yang sudah mendahuluiku ‘pergi jauh’, cukup panjang.... merenungkan mereka semua, aku merasa seperti seorang kontestan lomba yang ‘sudah lolos ke babak selanjutnya’ karena bisa melewati masa kecil, remaja, dewasa muda dalam kondisi hidup & bernafas seperti saat ini sementara ada orang yang ‘tidak lolos ke babak selanjutnya’ entah di babak awal, perempat final, atau semi final.

Life is short.
Tapi ada yang panjang dan tidak berakhir, yaitu hidup kekal.
Walaupun tidak pernah tahu kapan pergi ke alam baka, namun sebaiknya perlu siap jauh hari dengan ‘koper, pasport dan visa’.
Rick Warren pengarang buku laris “Purpose Driven Life” bilang hidup di dunia adalah ‘gladi bersih’ dari hidup kekal.
Jadi, mari lakukan gladi bersih tiap hari... berlatih membersihkan hati, berlatih mengampuni, berlatih mengasihi agar Sang Khalik menilai kita cocok dengan atmosfir Surga Mulia sehingga kita diterima di Sana..

Senin, 09 Agustus 2010

Oily Wok, Oily Mind

Malam hari aku selalu mencuci wajan berminyak secara sistematis. Wajan yang berat karena beneran terbuat dari waja (alias baja) bercorak buruk rupa tersebut, pertama-tama ku kucuri dengan sabun cair yang kental beraroma jeruk nipis..crot crot.. Dengan sikat berpermukaan lebar, aku sikat srek srek srek dengan gerakan melingkar sentrifugal maupun sentripetal. (aku selalu terbalik dengan makna keduanya karena ketika SMA jurusan IPA, aku lemah di Fisika- maka kusebut keduanya sekaligus biar aman). Nah, setelah prosedur itu aku ulang kedua kalinya, aku akan melakukan checking dengan gerakan jari-jemariku yang anggun menyusuri-menekan cekungan wajan... Nah, muncullah problem pada bagian ini disebabkan oleh jari-jemariku yang sebenarnya valid tapi tidak reliabel karena terkontaminasi oleh minyak dari wajan.


Bayangan adegan ini : Lily melakukan checking..oh, wajan terasa masih berminyak di jemariku.. ok, di sabun sikat lagi -siram-checking..oh, wajan masih terasa berminyak di jemariku...ok, di sabun sikat lagi –siram-checking.. oh, wajan masih terasa berminyak di jemariku...ok, di sabun sikat lagi –siram-checking.. Adegan diakhiri dengan pose Lily terkulai di lantai dapur memegang sikat dengan backsound ayam berkokok menyambut fajar dini hari...Lily Lebai? tunggu dulu...Anda kemungkinan besar melakukan juga dalam rupa yang berbeda.


Kegiatan mencuci wajan yang kuceritakan diatas adalah kisah nyataku, minus ayam berkokok tentunya (bagi yang menjawab “karena di apartemen tidak ada ayam” tolong berhenti membaca sekarang juga). Analogi ini mirip dengan kisah berikut : Seorang kakek berkumis tebal waktu tidur dikerjain oleh cucunya yang mengoleskan minyak bau di kumisnya. Nah, waktu bangun si kakek mendakwa bahwa kamar tidurnya bau...kemudian dia melangkah ke kamar mandi dan mendakwa bahwa kamar mandinya bau...kemudian dia pergi ke ruang makan dan mendakwa bahwa ruang makannya bau... ke teras tetap aja bau... padahal yang bau adalah kumisnya sendiri.


Jadi, yang sebaiknya dilakukan ? Mencuci tanganku dengan sabun sampai minyak sirna dari jemari, baru melakukan checking..maka ketahuanlah sejatinya wajanku masih berminyak atau sudah bersih. Sama halnya dg pikiran yang terkontaminasi dengan ‘minyak prasangka’ ‘minyak benci’ ‘minyak curiga’ selalu menimbulkan checking-checking yang tidak reliabel terhadap kondisi orang lain. “Pasti dia akan salah lagi, memang dia sulit diajar” (bos pada anak buah; bisa jadi caranya ngajarin yang salah). “Pasti dia tidak puas lagi sama saya karena saya sekarang gembrot” (istri pada suami; bisa jadi karena galaknya-bukan gembrotnya). “Pasti dia sengaja bikin aku marah” (ibu pada anak; bisa jadi karena anak ingin mendapatkan perhatian dan waktu dari sang ibu). Hasil checking bisa jadi memang sesuai dugaan kita, tapi pastikan itu tidak dihasilkan oleh 'pikiran yang berminyak'

Mari kita ‘cuci pikiran dari minyak-minyak jelantah’. Psikologi Kognitif mengajarkan bahwa bersih / kotornya ‘saringan otak’ kita yang memberi makna terhadap suatu kondisi.


Sekian.

Oh ya, bagaimana nasib si kakek ? Hmm, akhirnya dia sadar dan mencukur kumisnya (plus menghajar cucunya).

Lily & Termos Pecah

“SEUMUR HIDUP baru kali ini aku mecahin barang di toko !” itu kalimat yang kuhembuskan pada teman setelah aku melakukan atraksi sirkus yang tidak sukses di sebuah toko barang pecah belah di MKG. Tiba-tiba aku mikir “seumur hidup?”


Kisah diawali ketika aku mencari kado, benda yang indah-indah di toko membuat jemariku -yang menurut cowok kesayanganku (yang sekarang entah dimana)- lucu karena mungil alias 4P : pendek-pendek padat berisi (jangan bayangkan kacang telor, saya marah) memegang termos. Mungkin karena faktor 4P tadi, termos plastik bulat yang kupegang mendadak luput dari genggaman dan mental terhempas ke lantai keramik dengan bunyi dahsyat menggema yang bisa jadi sampai terdengar di Monas. Seluruh pramuniaga sontak memandangku ka-gum...eh maksudku : ka-get! Tanpa melihat, dari suaranya aku tahu kalau kaca cermin di dalam termos plastik pecah berkeping-keping seperti kerupuk diremas-remas. Namun luarnya utuh sehingga setelah berunding dengan kasir, kemungkinan termasuk akal adalah menjadikannya vas bunga plastik – tidak bisa bunga hidup karena pantatnya bocor.


Sudah merupakan perjanjian tidak tertulis bahwa “pecah berarti beli” sehingga aku merelakan seratus tiga puluh sembilan ribu lima ratus rupiah ku melayang sia-sia. Sebelum kurelakan rupiahku, sempat aku bernegosiasi dengan kasir berlandaskan ‘pasal-pasal hukum Lily’ yang menurutku logis : “Boleh tidak saya bayar harga pokoknya saja ? khan saya tidak merugikan Anda....” tentu saja kasir menolak pasal yang kuajukan. Setelah membatalkan niat memanggil pengacara karena kupikir sidang akan menghabiskan waktu saja, aku kembali melihat barang di toko yang sama untuk menemukan kado. Namun kali ini aku lipat tanganku rapat-rapat dan menyuruh pramuniaga yang mengambil barang dari rak untuk kulihat.


Keluar dari toko dengan menjinjing dua item, yang satu manis dan yang satu pahit, (Grrrrr) aku bertemu dengan teman. Nah, kata2 “seumur hidup” tadi membuatku mikir : setelah tigapuluh sekian tahun umurku baru sekali ini ya? Oh, kecil sekali kalau dipersentase.. berarti dalam sekian ribu hari hidup ku, terjadi sebuah tragedi dengan persentase 0.00007 % yang menimbulkan gelombang emosi jengkel nyaris setinggi tsunami. Berarti ada 99.99993% hari dimana aku ‘selamat’, ya nggak ? Wah, bersyukur deh kalau gitu.. ternyata begitu banyak hari dimana aku tidak rugi dong...begitu banyak hari dimana aku tidak sial dong...begitu banyak hari dimana aku terlindungi dong...begitu banyak hari dimana aku tidak kaget dong...begitu banyak hari dimana aku tidak sia-sia membayar dong...


Dalam skala ‘kesialan’ yang jauh lebih besar dari tragedi termos plastik, hati kita meratap menangis memberontak dan bila diterjemahkan berbunyi : “Why me God??” Padahal kita lupa bersyukur untuk sekian puluh, ratus, ribu ‘keuntungan’ yang kita alami : lulus sekolah (kenapa tidak menangis haru “Why me God? Sambil memikirkan mereka yang mental retardasi) ; naik gaji (kenapa tidak meratap “Why me God?” sambil memikirkan gaji penyapu jalan); bayi lahir sempurna (kenapa tidak menangis girang “Why me God?” sambil memikirkan bayi hidrochepalus atau mereka yang tidak bisa memiliki anak); makan dengan kenyang dan layak (kenapa tidak meratap “Why me God?” sambil membayangkan pemulung makan beraromakan bau sampah).


Saat ini, aku duduk memandangi termos plastik bocor biru muda bergambar Mickey & Minnie Mouse sedang tersenyum bergandeng tangan, memikirkan bunga warna apa yang cocok untuk dimasukkan ke dalamnya...

Rabu, 28 Juli 2010

Lily dan el pi ji

Aku tidak tahu sudah berapa menit/ jam aku tidak menghirup oksigen pada dini hari Sabtu kemarin, namun tetap bernyawa. Manusia diciptakan untuk menghirup O2, sehingga yang terjadi padaku mutlak merupakan suatu kekeliruan. Dalam kondisi seorang diri tidur di apartemen, tiba-tiba aku terbangun dan mencium bau yang familiar plus suara nge-‘SSSZZSSSSSZ’ dari arah dapur.

Gas el pi ji jelas bukan zat yang bervitamin untuk tubuhku, maka walau takut aku memberanikan diri mencabut regulator sambil berdoa menyebut nama Tuhanku. Dingin dan basah, kurasakan dijemariku yang memegang regulator dalam kegelapan, itu bukan keringatku tapi cairan hasil pengembunan gas. Berarti kebocoran ini berlangsung cukup lama. Aku tidak berani menyalakan lampu. Berita-berita santer tentang ledakan dari tabung el pi ji memenuhi benakku namun terima kasih kepada media massa yang telah memberikan informasi sehingga aku tahu what should I do. Pertama, jangan nyalakan listrik. Kedua, cabut regulator. Ketiga, keluarkan tabung ke tempat terbuka. Nah, yang ketiga ini mustahil kulakukan mengingat ‘keperkasaan’ badanku yang kurang. Maka aku buka pintu dapur, pintu balkon dan jendela lebar-lebar pada jam 4 subuh kemudian lanjut tidur sambil masih mencium sisa ‘parfum’ merk Pertamina. Thanks God karena aku dibangunkan. Bisa saja aku terlelap terus dan menjadi lemas dan tidak bangun2...

Investigasi keesokan harinya menghasilkan penemuan bahwa karet tabung yang bermasalah. Setelah diganti, berfungsi kembali. Aku teringat korban2 ledakan gas el pi ji tabung kuning 3 kilo-an yang sampai hari ini masih terjadi, kasian..negara mencelakai rakyat.

Aku paham sekali bahwa energi yang timbul dari bekerjanya piranti elektronik termasuk menyalakan lampu, memencet bel pintu, penggunaan hp dalam pekatnya gas bahan bakar bisa fatal sekali..BUUUM begitu kira-kira bunyinya. Aku pernah melihat film Hongkong yang rumahnya meledak gara-gara ada perkelahian seru di dalam rumah sehingga pipa gas terbentur dan bocor lalu...eh ada yg bunyikan bel pintu. The End. Nah, 2 hari sebelum insiden el pi ji, suatu malam listrik di building ku mati total yang mana hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dini hari aku terbangun dan melihat lampu-lampu menyala, ternyata aku lupa mematikannya. Apakah Anda menyadari yang kusadari ? Belum ? Ok, begini...kalau kedua peristiwa itu digabungkan berarti lampu2 akan menyala serentak jreeeng pada saat yang sama dengan merajalelanya gas di dalam unit apartemenku yang tidak besar ini. Dengan demikian aku menyadari bahwa kehadiranku di dunia fana ini masih dibutuhkan. Terima kasih Tuhan.